"BUMI TIDAK MEMERLUKAN BANYAK ORANG PINTAR, BUMI LEBIH MEMBUTUHKAN LEBIH BANYAK HATI YANG INDAH" - Terima Kasih Sudah Berkunjung, Jangan Lupa BACA dan BERKOMENTAR !

Jumat, 02 Juni 2017

Jejak-jejak Makna I

Seperti menemukan keseimbangan menaiki sepeda, tidak semua pencapaian bisa diceritakan. Sebagian pencapaian spiritual juga serupa. Ia bersifat implisit dan sulit diceritakan. Kalau pun diceritakan, mudah mengundang salah mengerti orang-orang. Di titik inilah sebuah peninggalan tua di kedalaman hutan di Peru sana akan sangat membantu. Di sebuah hutan dan danau tua yang lokasinya persis di balik pulau Bali ini, pernah ditemukan ajaran sangat tua yang bernama manuskrip Celestine. Ada sejumlah wawasan yang ditulis dalam manuskrip ini.
 
Dan yang paling menonjol dari semua wawasan yang disajikan, tidak ada kebetulan hanya bimbingan-bimbingan. Sedihnya, kebetulan-kebetulan yang penuh bimbingan ini hanya bisa dirangkai oleh jiwa-jiwa yang kaya dan berlimpah energi. Dan jiwa yang berlimpah energi di zaman ini sangat-sangat sedikit. Terutamaka karena manusia modern membocorkan banyak sekali energi melalui pikiran yang penuh permusuhan, persaingan dan penghakiman. Sebagai akibatnya, banyak manusia bernasib seperti ayam yang mati di tengah lumbung padi. Tidak sedikit manusia yang kekurangan energi di bumi yang dikelilingi berlimpah energi.

Salah satu saran sangat penting yang direkomendasikan manuskrip Celestine agar manusia terhubung rapi dengan energi, yakni melatih diri untuk melihat semuanya dari sisi-sisi yang indah. Makanya, teman-teman yang suka tertawa lebih sedikit sakit. Sahabat yang rajin bersyukur cahaya mukanya lebih terang. Kawan yang sering mengucapkan doa terimakasih, auranya lebih bercahaya. Pekerjaan rumahnya kemudian, belajar melihat setiap kekinian dari sisi-sisi yang indah. Kemudian, lihat sendiri bagaimana jiwa Anda akan semakin terhubung dengan sang energi.

Penulis: Gede Prama

Kupu-kupu Jiwa

Di Timur ada tradisi tua, kalau rumah didatangi kupu-kupu itu tanda akan datang tamu. Tidak sepenuhnya salah. Namun sulit mengingkari kalau kupu-kupu itu wakil keindahan di alam. Setiap sahabat yang peka dalam rasa mengerti, ada rahasia spiritual mendalam yang disembunyikan di balik kupu-kupu.

Sebagaimana sering dikutip di dunia pertumbuhan jiwa, sebelum menjadi kupu-kupu kepompong harus keluar dari rumahnya. Yang layak diendapkan, proses keluar dari rumah kepompong tidak saja lama tapi juga menyakitkan. Hal yang sama juga terjadi dengan pertumbuhan spiritual. Jangankan orang biasa, bahkan para suci pun harus melewati rasa sakit yang tidak kebayang.

Itu sebabnya, di Tantra mahluk tercerahkan disebut Maha Siddha. Sederhananya, seseorang yang sudah melewati cobaan, godaan, guncangan yang tidak kebayang hebatnya, kemudian mencapai alam Cahaya. Salah satu tokoh menonjol dalam hal ini adalah Jetsun Milarepa. Ia melewati proses yang berdarah-darah, sampai pernah tidak tahan hingga nyaris mau bunuh diri.

Tidak jauh berbeda dengan kupu-kupu, setelah melewati serangan dan guncangan yang maha dahsyat, mahluk tercerahkan jiwanya ringan. Masa lalu lengkap dengan rasa bersalahnya tidak lagi menjadi gendongan berat. Masa depan lengkap dengan ketidakpastiannya tidak lagi membawa ketakutan. Yang ada hanya jiwa yang ringan terbang di hari ini.

Berbeda dengan kodok yang melompat ke sana ke mari dan belum tentu ketemu yang dicari, kupu-kupu biasanya terbang terfokus menuju bunga. Kemudian menemukan madu di sana. Hal yang sama terjadi dengan mahluk tercerahkan. Itu sebabnya, salah satu kekayaan spiritual yang dicari di jalan meditasi adalah samadhi (fokus). Begitu seseorang lama istirahat melalui samadhi, di sana ada kemungkinan jiwa bisa bersayap indah.

Salah satu bagian hidup kupu-kupu yang layak diendapkan dalam-dalam, ia mengambil intisari bunga tanpa merusak keindahan bunga. Bahan renungannya, silahkan bertumbuh di bumi. Cuma jangan lupa untuk mengambil yang intisari saja (baca: cinta kasih). Bersamaan dengan itu, hati-hati jangan sampai merusak terlalu banyak.

Makanya di dunia keluarga, orang tua selalu disarankan untuk hati-hati merawat anak-anak khususnya. Jauh lebih mudah untuk hati-hati berbicara ke anak-anak, dibandingkan merawat manusia dewasa yang mentalnya terlanjur rusak. Lebih menyedihkan lagi karena itu terjadi tatkala orang tua tubuhnya sudah lemah dan lelah.

Bagian terindah kupu-kupu adalah sayapnya. Itu sebabnya, di Timur mahluk tercerahkan digambarkan memiliki sepasang sayap indah. Sayap kanannya bernama compassion (belas kasih). Sayap kirinya bernama wisdom (keheningan, kebijaksanaan).

Sebagaimana sepasang sayap kupu-kupu yang tidak bisa dipisahkan, wisdom dan compassion juga tidak bisa dipisahkan. Ia sesederhana bunga yang tidak bisa dipisahkan dengan keindahan. Sesimpel air yang tidak bisa dipisahkan dengan sifatnya yang basah.

Itu sebabnya, pesan yang paling sering terdengar di komunitas jiwa-jiwa yang dalam berbunyi seperti ini: “sebagaimana sifat alami air yang basah, sifat alami bunga yang indah, sifat alami mahluk tercerahkan memiliki hati yang indah”.

Penulis: Gede Prama

Kamis, 01 Juni 2017

Jiwa yang Mekar

Salah satu ajaran tingkat tinggi yang pernah lahir di alam ini bernama Tantra. Sebagian ajaran Tantra memang bersifat rahasia. Tapi bila semuanya dirahasiakan, suatu hari ajaran ini akan punah. Untuk itulah, sejumlah Guru seperti Osho berani membuka rahasia-rahasia Tantra.
Jika Buddha Tantra lebih dekat dengan jalan jhnana (pengetahuan) serta puncaknya bernama keheningan, Shiva Tantra lebih dekat dengan jalan bakti (devotion) serta puncaknya bernama kebersatuan. Dua-duanya bersifat saling melengkapi.
Itu sebabnya Shiva Tantra turun dari Shivaji kepada permaisurinya. Implisit dalam kisah ini berarti, ajaran ini hanya boleh diturunkan kepada murid-murid dengan bakti yang sangat dalam. Hanya dengan bakti yang mendalam maka kebersatuan bisa dicapai.
Perintah komplit Shiva Tantra berjumlah 112 bisa selengkapnya dibaca dalam maha karya Osho yang berjudul The Book of Secret. Dan tidak semua penafsiran Osho layak ditelan mentah-mentah. Terutama karena Osho mengajar dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda dengan kita.
Dalam tulisan ringkas ini akan dicoba menafsirkan tiga perintah Shiva Tantra yang cocok dengan konteks ruang dan waktu kita. Perintah pertama: “sentuh mata secara lembut, selembut bulu ayam”. Penafsirannya, hati-hati dengan cara memandang. Duka-suka, salah-benar, neraka-surga semua berawal dari cara memandang.
Yang disarankan, belajar memandang kehidupan dengan mata kelembutan. Ia yang memandang kehidupan dengan mata kelembutan sedang berjalan di jalan kedamaian. Perintah kedua: “lihat langit melampaui awan-awan”. Kesedihan-kesenangan, cacian-pujian, gagal-sukses semuanya awan-awan yang tidak kekal. Dan Anda bukan awan-awan tersebut.
Diri sejati mirip dengan langit biru. Apa pun wajah awannya, semuanya disaksikan dengan senyuman yang sama. Itu sebabnya, meditasi mendalam selalu menyarankan untuk menjadi saksi terhadap semua pengalaman kekinian.
Perintah ketiga: “akar selalu bertumbuh di tempat gelap”. Penafsirannya, siapa saja yang mau mengerti akarnya jiwa disarankan memahami kegelapan. Simpan di dalam hati, kegelapan bukan musuhnya cahaya. Kegelapan adalah kekuatan yang membuat cahaya memancar lebih terang. Lebih dari itu, kalau semua orang menjauh dari kegelapan, lantas siapa yang membimbing mereka berevolusi menjadi cahaya?
Digabung menjadi satu, tiga perintah Shiva Tantra ini bisa menjadi bekal mendalam di jalan pencerahan. Pandang kehidupan secara lembut, lampaui awan-awan pikiran dan perasan, kemudian ingat selalu bahwa semuanya adalah cahaya. Bahkan kegelapan pun sedang berevolusi menjadi cahaya.
Ia yang membadankan tiga perintah ini dalam-dalam, jiwanya sedang berevolusi menjadi bunga indah. Jika bunga biasa cepat layu, bunga jiwa yang tercerahkan akan tetap mekar di sini untuk berbagi aroma cinta.
Penulis: Gede Prama

Berjumpa Guru Sejati

“Apa dan siapa itu Guru sejati?”, demikian pertanyaan yang kerap diungkapkan oleh banyak pencari. Tidak mudah menjawabnya. Sederhananya, bagi orang biasa yang belum tercerahkan, Guru sejati ada di luar. Bagi pencari yang baru tercerahkan, Guru sejati ada di dalam. Namun bagi ia yang sudah mengalami pencerahan sempurna, Guru sejati itu melampaui luar dan dalam.
Di Barat yang bahasanya lugas, ada yang mendefinisikan Guru sejati sebagai the unobscured suchness. Artinya, kepolosan yang memancar secara terang benderang. Guru sejati dalam kerangka berfikir ini jauh dari penghakiman. Pikirannya selalu polos memandang semuanya apa adanya. Namun dari kepolosan itu memancar cahaya yang indah menawan.
Namun di Timur yang bahasanya halus, para pencari sering diberi nasehat seperti ini. Tidak perlu mengejar kupu-kupu, cukup membuat bunga mekar indah menawan. Kalau bunga mekar indah menawan, secara alamiah kupu-kupu datang. Dengan cara yang sama, tidak perlu mengejar Guru sejati. Konsentrasikan energi untuk melaksanakan kesejatian (baca: tulus, halus, ikhlas). Ia yang di dalamnya kesejatian, secara alamiah akan bisa melihat Guru sejati.
Sejujurnya, di setiap putaran waktu ada Guru sejati. Sedihnya, sangat-sangat sedikit ada pencari yang bisa menemukan Guru sejati. Ada tipe pencari yang mirip laron yang mendekati api. Begitu ia dekat dengan Guru sejati, hidupnya terbakar berbahaya. Bahkan ada yang kehilangan nyawa. Ada pencari yang serupa sendok di tengah sop. Ia berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Guru sejati, tapi ia tidak merasakan apa-apa. Ada pencari yang mirip batu yang nyemplung ke air. Ia hanya basah (baca: mengerti) di permukaan saja. Yang paling diberkahi adalah pencari yang menyerupai gula pasir yang dimasukkan ke air. Ia larut sepenuhnya dengar Guru sejati. Dan pada saat yang sama menghadirkan rasa manis bagi diri Guru sejati.
Para sahabat yang tipe laron, yang terbakar saat dekat dengan Guru sejati, disarankan belajar tatakrama berjumpa Guru sejati. Terutama sebelum kehidupan betul-betul terbakar secara menyedihkan. Pencari yang mirip sendok di tengah sop memerlukan kecerdasan dan kepekaan yang jauh lebih dalam. Pencari yang serupa batu di dalam air diundang untuk memahami semakin dalam. Terutama dengan melaksanakan apa yang diajarkan dalam keseharian.
Dan kualitas yang membuat seseorang bernasib sangat beruntung seperti gula pasir yang larut ke dalam air bernama bakti yang sempurna. Bentuk bakti kepada Guru sejati ada bermacam-macam. Tergantung pada seberapa dekat hubungan seseorang dengan Guru sejati. Untuk konsumsi publik pemula, bentuk bakti yang disarankan adalah melaksanakan inti sari ajaran dalam keseharian. Sampai suatu hari bisa melihat kehadiran Guru sejati di mana-mana.
Segelintir sahabat dekat di keluarga spiritual Compassion sering diberi nasehat seperti ini: “biasakan sejak awal untuk berkomunikasi dengan Guru tidak menggunakan bahasa manusia, melainkan menggunakan bahasa cahaya”. Maksudnya sederhana, selalu pandang Guru bukan sebagai manusia, tapi sebagai wakil alam cahaya yang hadir di sini untuk menerangi jiwa.
Sebagaimana telah dialami oleh pencari-pencari tingkat tinggi di Tantra, cara memandang Guru seperti ini membawa dampak penerangan ke dalam diri yang di luar dugaan. Sekaligus di luar apa yang bisa dimengerti pikiran orang biasa. Sering terjadi, tiba-tiba saja seorang pencari sudah sampai di tingkat ketinggian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini mirip dengan konsep self-fulfilling prophecy di psikologi, yang mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi sebagaimana yang mereka yakini.
Dan untuk sampai di tingkat seperti ini, di kedua belah pihak (Guru dan murid) harus cerdas. Kapan saja kehadiran Guru sejati membuat hidup jadi panas (mudah marah, mudah gelisah, mudah resah), itu tanda seseorang terlalu dekat. Jika kehadiran Guru sejati membuat seseorang jadi semakin gelap (bingung, canggung), itu tanda seseorang jaraknya terlalu jauh.
Dalam keadaan demikian, pintar-pintarlah membuka dan menutup jendela jiwa. Seperti membuka jendela rumah, pagi-pagi jendela dibuka agar udara segar. Saat siang yang panas jendela ditutup. Dengan cara yang sama, kalau panas menjauh dari Guru sejati. Kalau gelap, belajar mendekat. Tanda kalau jarak seseorang dengan Guru sejati itu tepat dan pas, jiwa bernasib seperti seorang bayi yang dekat dengan ibu kandungnya. Ada rasa aman, nyaman dan tentram di sana.
Penulis: Gede Prama

Pencuri Kedamaian

Di dunia akademis, setiap bentuk pengkotakan jiwa manusia disarankan untuk dihindari. Terutama karena pengkotakan adalah sebentuk pendangkalan. Meminjam pendapat seorang filsuf, jiwa manusia itu multi dimensional (melampaui segala pengkotakan). Namun, untuk kepentingan praktis pengkotakan itu diperlukan.
Lebih mudah menyembuhkan luka jiwa kalau seseorang mengerti ciri unik dirinya di dalam. Sebagai bahan renungan dalam perjalanan panjang menuju kedamaian, ada dua jenis pencuri kedamaian di dalam. Kedua pencuri inilah yang membuat kedamaian pergi menjauh entah ke mana.
Oleh karena serangkaian kejadian di masa lalu yang menimbulkan banyak luka jiwa, sebagian sahabat cenderung peka dan mudah luka. Jangankan diserang orang, bahkan ditanya orang saja bisa menimbulkan luka. Pencari spiritual jenis ini suka membuat konsep diri yang terlukai di dalam. Ia menyebut diri sebagai korban kehidupan.
Wajah diri seperti inilah yang terus menerus bercakap-cakap di dalam. Dari minta perlindungan sampai dengan minta didengarkan. Begitu memori terlukai muncul, ia minta perlindungan. Begitu ingatan disakiti muncul, ia minta didengarkan. Sebagai akibatnya, pikiran tidak pernah istirahat di dalam.
Dari waktu ke waktu pikiran sibuk antara membangun perlindungan diri di dalam, atau meladeni diri yang terlukai untuk terus menerus didengarkan keluhannya. Saat ia minta perlindungan, diri yang terluka ini mirip bayi menangis yang minta didekap. Tatkala ia minta didengarkan, diri yang luka ini mengeluh soal orang-orang yang melukai. Ujungnya mudah ditebak, ia mencuri kedamaian jiwa di dalam.
Pencuri kedamaian yang ke dua sering mendatangi manusia yang sebaliknya, yakni manusia yang terlalu percaya diri, sehingga tidak memiliki kepekaan sama sekali. Di psikologi, manusia jenis ini disebut sebagai sapi di tengah barang pecah belah. Ia bicara ke sana ke mari seenaknya. Dan tidak tahu kalau yang mendengarkan terluka jiwanya.
Jika manusia peka membangun konsep diri yang terluka, sapi di tengah barang pecah belah ini persoalan waktu akan dikejar oleh banyak rasa bersalah. Rasa bersalah inilah yang juga membangun sosok diri palsu di dalam. Jika ia tidak muncul di usia muda, ia akan muncul di masa tua. Sedihnya, kalau tidak muncul di usia muda dan di usia tua, rasa bersalah ini akan mengejar nanti setelah kematian. Ini lebih menakutkan lagi.
Sama dengan diri yang terluka yang bercakap-cakap di dalam, rasa bersalah ini juga bercakap-cakap di dalam. Dari minta dibenarkan sampai dengan kecenderungan untuk selalu menyalahkan. Saat memori buruk datang dari masa lalu, ia akan menumpuk argumen pembenaran. Ketika ingatan tentang orang dibenci muncul, ia langsung menyalahkan.
Ujungnya sama, pikiran selalu ribut di dalam. Persoalan waktu, jiwa akan kelelahan. Lagi-lagi kedamaian lari entah ke mana. Teman-teman yang sudah menghabiskan waktu tahunan dalam keheningan kesendirian mengerti, inilah dua jenis pencuri kedamaian yang digendong manusia ke mana-mana.
Di jalan meditasi, begitu pencuri-pencuri kedamaian ini datang, segera ia didekap lembut dengan sepasang tangan ke-u-Tuhan. Seperti alam yang mendekap malam dan siang, seperti itu juga seseorang disarankan untuk mendekap luka dan suka di dalam. Tidak saja para pemula, bahkan jiwa bercahaya pun ada luka dan sukanya.
Sebagai hasilnya, pelan perlahan percakapan melelahkan di dalam akan menurun. Diri sebagai korban – untuk jiwa yang mudah luka, mulai mengecil. Bersamaan dengan itu bertumbuh benih-benih agar seseorang menjadi tuan dalam kehidupan. Rasa bersalah yang mengejar juga serupa, begitu ia sering didekap oleh ke-u-Tuhan, pelan perlahan ia tidak lagi menjadi pencuri kedamaian di dalam
Penulis: Gede Prama

Nyanyian-nyanyian Bambu

Di suatu waktu, bambu di hutan iri dengan nasib baik seruling. Suaranya dikagumi orang sekaligus mewakili keindahan. Merasakan dalamnya rasa iri bambu, seruling pun mencoba menjelaskan. “Hai bambu”, demikian seruling memulai penjelasan. “Dulunya, saya juga bambu seperti kalian. Sebelum menjadi seruling, kaki saya dipotong golok, badan saya dihaluskan pisau tajam, yang paling menyakitkan dada saya dilobangi”.

Sejujurnya, demikian juga perjalanan manusia-manusia bercahaya. Tidak ada diantara mereka yang perjalanannya hanya lurus mulus. Sebagian nyaris terbunuh (Nelson Mandela), sebagian bahkan benar-benar terbunuh (Mahatma Gandhi, John Lennon). Tidak adilnya, sejumlah orang mengira kehidupan mereka tanpa godaan dan cobaan, tiba-tiba sudah mengagumkan di atas sana.

Inilah yang kemudian dengan mudah membangkitkan rasa iri. Andaikan banyak orang tahu betapa bahayanya jalan-jalan kehidupan di atas sana, mungkin sebagian orang akan memilih aman nyaman menjadi orang biasa. Namun begitulah ciri utama banyak kehidupan, serupa dengan bahayanya strum listrik, baru percaya setelah pernah kena strum.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa nyaris semua anak muda demikian bersemangat dan bertenaga. Sekolah, kursus, mengikuti aktivitas organisasi, mencari bea siswa dan segudang kegiatan bertenaga lainnya. Intinya satu, bila orang bisa kenapa saya tidak. Keyakinan seperti ini juga yang menyebabkan sejumlah motivator mendorong banyak orang agar cepat kaya raya. Anthony Robbin sebagai contoh, memberi judul karyanya dengan Awakening The Giant Within. Membangunkan raksasa yang ada di dalam diri.

Premis orang di jalan ini jelas sekali. Pertama, tidak ada istilah tidak bisa. Kedua, kemampuan di dalam sini tidak terbatas. Makanya disejajarkan dengan raksasa. Ketiga, lebih tinggi kehidupan yang bisa diraih lebih baik. Dan ternyata, bagi mereka yang sudah menua bijaksana akan tersenyum penuh pengertian. Dalam kehidupan, ada yang bisa dicapai, ada yang hanya layak disyukuri. Ada wilayah kehidupan yang bisa digedor dengan kerja dan usaha. Ada wilayah kehidupan yang hanya menjadi milik misteri.

Sampai di tingkatan ini, melarang anak muda berusaha keras tentu bukan pilihan bijaksana. Sebagaimana cemara yang sejuk di gunung, kelapa yang bertumbuh kokoh di pantai, biarkanlah mereka bertumbuh sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Namun bagi yang sudah menua, disamping badan sudah berhenti berbau parfum, digantikan oleh bau minyak kayu putih, mungkin ada gunanya mendengarkan nyanyian-nyanyian bambu.

Coba perhatikan bambu dalam-dalam. Ia kuat dan kokoh tanpa pernah bisa dicabut angin. Dan alasan utama kenapa bambu kuat karena berakar kuat ke dalam. Ini berbeda dengan sebagian manusia yang hidupnya lemah dan keropos, terutama karena berakar ke luar (pangkat, kekayaan). Ini memberi inspirasi, belajarlah bertumbuh dengan berakar ke dalam. Ke dalam persahabatan dan rasa syukur atas berkah kehidupan.

Kedua, bambu senantiasa segar di segala musim. Ini berbeda dengan kebanyakan manusia yang hanya segar bila punya uang, naik pangkat, dipuji. Dan karena tidak ada kehidupan yang selalu kaya dan bahagia, maka layak direnungkan untuk belajar indah di setiap langkah. Kaya indah karena banyak yang bisa dibantu dengan kekayaan. Miskin juga indah, karena melalui kemiskinan manusia tidak perlu takut kehilangan. Naik pangkat indah karena penuh pujian. Pensiun juga indah. Berlimpah waktu yang tersedia untuk diamalkan.

Nyanyian bambu yang ketiga, setelah tinggi bambu merunduk rendah hati. Siapa saja yang setelah tinggi kemudian tinggi hati, ia sedang menabung untuk keruntuhannya di kemudian hari. Dan puncak cerita bambu, ketika bambu dibelah di dalamnya kosong.

Bila boleh jujur, kenapa banyak kehidupan mudah stres, marah, tersinggung, karena di dalamnya penuh berisi. Dari harga diri, kekayaan, sampai status sosial. Sehingga begitu ada orang yang berperilaku berbeda dari yang diharapkan, godaan untuk marah mudah muncul. Dan bambu mengajarkan, semua yang hebat-hebat yang membuat manusia mudah marah, suatu hari akan berakhir dengan kekosongan.

Uniknya kekosongan, begitu ia muncul secara alamiah akan membawa pelayanan di belakangnya. Ia sesederhana air yang membawa basah, api yang membawa panas. Persis seperti bambu, di dalamnya memang kosong tetapi terus menerus melayani kehidupan dengan berbagi kesegaran di segala musim.

Penulis: Gede Prama

Senin, 29 Mei 2017

Guru yang menyamar

Ditulis oleh Gede Prama
 
Seorang sahabat yang sudah membaca ribuan judul buku, telah belajar ke manca negara, berjumpa sejumlah tokoh kaliber dunia bercerita, ada saatnya jiwa itu jenuh sekali dengan kegiatan belajar ke luar seperti membaca, mendengarkan ceramah, belajar dari pengalaman orang lain. Pada saat yang sama muncul kerinduan mendalam untuk belajar ke dalam.

Persisnya, berguru pada Cahaya yang bersemayam di dalam. Meminjam salah satu pesan indah Upanishad: “belajar apa-apa yang tidak bisa diajarkan”. Sejenis cara belajar yang tidak kebayang bagi orang kebanyakan. Ia lebih sulit lagi dimengerti oleh orang-orang yang sedikit-sedikit lari dari kesulitan.

Namun, bagi jiwa-jiwa yang dalam, ini pilihan jalan yang tidak bisa dihindari. Ia satu-satunya jalan yang tersedia kalau seseorang mau perjalanan jiwanya dalam mengagumkan. Meminjam sebuah ungkapan tua: “begitu muridnya siap, Guru akan datang”. Catatannya, wajah Guru yang datang tidak seperti yang dibayangkan banyak orang.

Di tingkatan ini, wajah Guru yang datang sebagian besar menyakitkan dan menakutkan. Mungkin itu sebabnya, di tempat-tempat suci yang berbau Tantra, simbol-simbol yang dipamerkan adalah simbol-simbol yang seram dan menakutkan. Kalau jiwanya belum dewasa, jangan coba-coba memasuki wilayah ini.

Sebagai pintu pembuka di jalan ini, kehidupan akan ditandai oleh banyak kesulitan. Tidak saja sulit secara material, tapi juga sulit secara spiritual. Dan semakin lama, kesulitan datang dari orang yang semakin dekat. Dalam kadar yang semakin berat. Yang membuat sang jalan lebih menantang, ia tidak memberi pilihan untuk lari menjauh. Satu-satunya pilihan yang tersedia adalah dihadapi.

Ia bisa muncul dalam bentuk anak bermasalah, pasangan hidup yang penuh musibah, orang tua yang banyak maunya. Dan semakin lama beban itu tidak semakin ringan. Sebaliknya semakin berat dan semakin berat. Sampai di suatu titik, seseorang tidak punya pilihan lain selain bersahabat dekat dengan kepasrahan dan keikhlasan. Anehnya, setelah didekap lembut dengan keikhlasan, ada saja keajaiban yang datang sebagai penyelamat.

Jika buku yang ditulis manusia ada bab terakhirnya yang membawa kesimpulan, buku kehidupan yang ditulis Tuhan tidak mengenal bab terakhir. Tidak juga mengenal kesimpulan terakhir. Yang ada adalah cobaan yang tidak mengenal akhir. Itu sebabnya, bagi jiwa-jiwa yang dalam tidak ada waktu yang sepenuhnya bebas dari cobaan dan godaan.

Meminjam dari psikolog kondang Carl G. Jung, sejauh seseorang masih memiliki ruang gelap di dalam (baca: sesuatu yang ditekan dan ditolak), sejauh itu juga yang bersangkutan akan diikuti oleh bayangan ke mana saja ia pergi. Ia bisa orang yang membenci, mencaci, menyerang, menjatuhkan, serta mendorong jiwa agar masuk jurang.

Anehnya, mirip dengan menghindari bayangan sendiri, semakin cobaan itu dihindari, ia akan semakin mengejar. Di tingkat seperti itu, seorang pencari tidak punya pilihan lain selain bersahabat dekat dengan keikhlasan. Di Tantra, ia disebut bakti yang mendalam kepada Guru. Jangankan nama baik dan reputasi, bahkan nyawa ini pun kalau mau diambil dipersembahkan kepada Guru.

Di Buddha ada cerita bercahaya Jetsun Milarepa yang menyerahkan nyawanya pada Gurunya Marpa. Di Hindu ada kisah indah Mahatma Gandhi, yang tatkala tubuhnya ditembus peluru panas, beliau memanggil nama Guru: “Shri Ram, Shri Ram…”. Begitulah perjalanan jiwa-jiwa yang dalam. Guru bisa menyamar dengan berbagai wajah. Dari sangat menakutkan sampai sangat menyenangkan.

Entri Populer